Pestisida nabati belajar bareng berkebun

Meningkatnya kesadaran konsumen akan produk pertanian
termasuk sayuran yang aman bagi kesehatan dan kebugaran,
aman bagi keselamatan dan kesehatan kerja, aman bagi kualitas
dan kelestarian lingkungan hidup mendorong dikembangkannya
berbagai persyaratan teknis bahwa produk harus dihasilkan dengan teknologi yang akrab lingkungan .Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan yang berpotensi
sebagai pestisida nabati yang aman bagi lingkungan. Namun sampai saat ini pemanfaatan belum dilakukan secara maksimal. Buku “Tumbuhan Bahan Pestisida Nabati, dan Cara Pembuatannya
untuk Pengendalian Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT)” ini
berisi 59 jenis tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai pestisida
nabati. Tumbuhan tersebut pada umumnya dapat dengan mudah
ditemukan, karena tumbuhan tersebut dapat ditemukan di sekitar
tempat tinggal petani dan dapat disiapkan dengan mudah
menggunakan bahan serta peralatan sederhana.
Setiap tumbuhan yang tercantum dalam buku ini dilengkapi
dengan gambar, deskripsi, bagian tumbuhan yang dapat digunakan
sebagai pestisida, kandungan kimia, cara kerja, khasiat lain dan
cara penggunaan. Sehingga akan memudahkan para pengguna
untuk mengaplikasikannya.
Kami menyadari bahwa bahwa buku ini masih jauh dari
sempurna.
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah
satu faktor pembatas penting dalam upaya peningkatan produksi
sayuran. Serangan OPT terjadi di semua tahap pengelolaan
agribisnis sayuran dimulai dari sebelum masa tanam, di
pertanaman, sampai penyimpanan dan pengangkutan produk.
Masyarakat sudah tidak asing dengan nama-nama OPT sayuran,
seperti ulat daun kubis, lalat pengorok daun, kutudaun, penyakit
hawar daun, penyakit layu bakteri, penyakit bengkak akar,
nematoda sista kentang (NSK) dan masih banyak lagi. Kehilangan
hasil tanaman sayuran akibat serangan OPT di pertanaman
diperkirakan mencapai 25-100% dari potensi hasil. Di samping
sangat menurunkan kuantitas produksi, serangan OPT juga dapat
menurunkan kualitas dan harga produk, serta daya saing produk di
pasar. Secara ekonomis kerugian tersebut mencapai miliaran
rupiah setiap tahun.
Dalam upaya memperkecil kerugian ekonomi usahatani sayuran
akibat serangan OPT, pada umumnya para petani masih sangat
menggantungkan pada penggunaan pestisida kimia sintetik,
meskipun PHT sudah menjadi kebijakan pemerintah. Mereka masih
mengikuti paradigma perlindungan tanaman konvensional, preventif
dan prinsip asuransi yang cenderung berlebihan. Penggunaan
pestisida yang yang tidak tepat dan tidak benar baik jenis maupun
dosis penggunaannya seringkali menimbulkan masalah OPT dan

●● ledakan OPT DI ANTARA NYA : 

1) RESITENSI 
Secara kualitatif laporan dan keluhan tentang semakin tidak manjurnya jenis-jenis pestisida tertentu semakin sering disampaikan oleh para petani atau petugas lapangan. Beberapa
OPT sayuran dilaporkan telah resisten terhadap pestisida tertentu, antara lain ulat daun kubis, (Plutella xylostella),ulat buah tomat (Helicoverpa armigera), ulat grayak (Spodoptera litura),ulat  bawang (Spodoptera exigua), lalat pengorok daun (Liriomyza
huidobrensis) dan ulat penggerek umbi kentang (Phthorimaea
operculella)
2) RESURGENSI HAMA
Resurgensi terjadi pada beberapa hama penting seperti kutudaun persik (Myzus persicae) dan ulat krop kubis (Crocidolomia pavonana) .
3) .Ledakan OPT SKUNDER
Ketika musuh alami mengalami kematian akibat aplikasi
pestisida. Ada OPT lain yang awalnya bukan OPT utama
populasinya akan meningkat, karena musuh alami yang awalnya
mampu menjaga kepadatan populasinya selalu rendah menjadi
tidak ada, atau kepadatan populasinya tidak lagi mampu
mengendalikannya
4) .RESIDU PESTISIDA
Sejak tahun 1980, residu pestisida telah ditemukan mencemari
beberapa jenis sayuran seperti kentang, kubis, sawi, tomat dan
wortel pada daerah-daerah sentra sayuran di Jawa Barat (Pacet,
Pengalengan, Lembang), Jawa Tengah (Getasan, Ambarawa,
Tawangmangu) Jawa Timur (Batu), Sumatera Utara, dan Jambi.
5).KESEHATAN MANUSIA
Beberapa jenis penyakit yang telah diteliti dapat diakibatkan
oleh pengaruh samping penggunaan senyawa pestisida antara lain
leukemia, myaloma ganda, lymphomas, sarcomas jaringan lunak, kanker prostae, kanker kulit, kanker perut, melanoma, penyakit otak, penyakit hati, kanker paru, tumor syaraf dan neoplasma indung telur. Selain dari pada itu, beberapa senyawa pestisida
telah terbukti dapat menjadi faktor "carsinogenic agent".

  MEMBUAT EKSTRAK PESTISIDA NABATI DARI CABE RAWIT DAN TETESAN JERUK LIMAU SERTA EFEKTIVITAS NYA .

 

●efektivitas : menolak dan anti makan
Bahan yg di siapkan dan cara :
- 1 buah limau
-3 buah cabe rawit
- sunlight .

Cara
- blender cabe rawit/ tumbuk dngan air termos segelas  lalu saring , ambil cairan y   , gunakan 10 cc/ liter air untuk menyemprot ,lalu tetesi 1/4 bagiaan jeruk limau  .
- sebelum d semprot tetesi 1 tetes sunlight kocok sampai agk membuih , lalu diamkan sejenak 5 menit d bawah terik matahari dlm posisi terbuka
- setelah 5 menit pestisida boleh di apliakasikan  semprot merata ke seluruh bagian tanaman , 1 litr mempunyai kapasitas tolak bagi 10 tanaman , artinya bs d semprot pada 10 tanaman . Dan lakukan setiap hari sekali / 2 hr sekali setiap pagi

*efektivitas dan opt sasaran
- bersifat menolak pada kutu daun, kutu kebul pada cabai , embun tepung pada tomat
-menahan laju reproduksi larva penggorok daun pada kubis , kentang , dan ulat penggerek daun
- anti makan pada ulat penggerek daun  pada tanaman bawang
- menghentikan /menghambat  walang sangit , wereng cokelat pada padi .
- racun kontak lambung pada belalang pemakan daun sawi, cesin.
-menekan busuk basah buah pada cabai, tomat


Keterangan :

Jeruk limau mempunyai kandungan minyak atsiri yang terdapat pada
bagian daun dan kulitnya. Minyak atsiri dari buah  jeruk limau mengandung β-
pinena, linalool, sitronelal, sitronelol dan geraniol. Rendemen minyak atsiri daun
jeruk limau dan tetesan buah limau sebesar 0.47% mampu menghambat pertumbuhan bakteri s.aureus .
dengan nilai KBM dan KHM sebesar 0.039%
   Limonoid adalah fitokimia, berlimpah pada buah sitrus dan tanaman lainnya dari keluarga Rutaceae dan Meliaceae. Saat ini, limonoids sedang dalam penyelidikan untuk kemungkinan efek pada manusia, walaupun tidak ada bukti efek yang ada sampai saat ini. Limonoid tertentu adalah insektisida seperti azadirachtin dari pohon nimba.

Secara kimia, limonoid terdiri dari variasi struktur inti furanolakton. Struktur prototipikal terdiri dari empat cincin beranggota enam dan cincin furan. Limonoid digolongkan sebagai tetranortriterpen.

Buah JERUK LIMAU  mengandung limonoida limonin, nomilin dan asam nomilinat, sedangkan kedua biji nimba dan daunnya mengandung azadirachtin limonoid, walaupun konsentrasi yang lebih tinggi ada pada yang pertama.
Limonoid sangat beroksigenasi, triterpen yang dimodifikasi dominan pada keluarga tanaman Meliaceae dan Rutaceae. Istilah 'limonoid' berasal dari limonin, yang pertama kali diidentifikasi sebagai unsur pahit benih jeruk . Kelompok metabolit sekunder ini menunjukkan berbagai sifat biologis, termasuk aktivitas antikanker, antibakteri, antijamur, antimalaria, dan antivirus. Kemajuan signifikan pada peran limonoids sebagai kandidat yang menjanjikan untuk kemoprevensi  anti insecta dan menahan penyebaran .



   

0 komentar:

Posting Komentar